WAKTU MODAL HIDUP

Waktu adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya. Kaitanya dengan waktu, banyak manusia yang merasa “dikejar waktu”, “tidak ada waktu”, dsb, bahkan ada pepatah “time is money”.  Waktu adalah buki sejarah perjalanan hidup manusia. Ketika manusia lahir lewat seorang Ibu, tangisan bayi sangat dinanti-nanti. Suara tangisan bayi yang baru lahir, meyeruak relung hati kedua orang tuanya, yang menanti harap-harap cemas. Saat itulah catatan amal manusia sudah mulai digelar, pada saat itu catatannya masih putih bersih. Hingga anak manusia sudah masa baliq (bagi anak perempuan sudah mulai mentruasi dan bagi anak lelaki sudah mulai mimpi “basah”.), Saat itulah mulai awal amal manusia dicatat oleh kedua malaikat, malaikat rokib mencatat amal soleh, dan malaikat atid mencatat amal salah. Agama islam meyakini sekali, bahwa ; hidup, mati, rejeki dan jodoh sudah ditentukan oleh Allah s.w.t. Hidup manusia sudah ditentukan kapan ajalnya.  Allah memberikan waktu kepada semua manusia sama ,satu hari 24 Jam, Baik yang kaya, miskin, tua, muda, yang sakit, yang sehat, direktur, kondektur, pejabat tinggi hingga kuli, perempuan atau lelaki.

Pada hakekatnya, setiap aktivitas manusia sekecil apapun dari kerlingan mata hingga bergesernya tubuh manusia dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan waktu, baik disadari maupun tidak disadari. Kadang kita sering bersumpah serapah kepada waktu.Kita sering ngedumel ‘ cepat sekali waktu berlalu, baru shalat lohor sudah waktu shalat asar, baru saja shalat maghrib sudah azan waktu isya.”. Atau kadang kita merasa baru kemarin shalat jum’at, sekarang sudah mau jum’at lagi “. Coba kita sedikit mereung, kita seakan-akan dikejar waktu. Sebenarnya waktu tidak mengejar kita, dari dulu 1 hari tetap 24 jam. Bila Allah s.w.t memberikan waktu yang sama untuk semua manusia, kenapa kita merasa sulit sekali untuk berbuat melakukan kebaikan, sudahkah waktu yang 24 jam sebagian untuk shalat, untuk membaca Al-Quran, untuk menghadiri majelis pengajian, untuk menyantuni anak yatim atau untuk bersilaturahmi. Atau waktu yang 24 jam tiap hari, tiap minggu,tiap bulan dan tiap tahun habis hanya untuk mengejar kepentingan hidup  dunia saja. Dari melek mata yang dibicarakan masalah kantor, masalah usahanya, bahkan ketika mau tidur masih saja membawa pekerjaan yang semuanya berhubungan dengan masalah dunia , Lupa bahwa kita kita masih ada kehidupan yang lain, yaitu kehidupan akhirat. Perjalanan menunju kampung akhirat, tidaklah mudah, harus mempersiapkan bekal yang berupa amal soleh. Perjalanan ke kampung akhirat sangat jauh dan sangat mengerikan bila kita tidak membawa cukup bekal. Siap atau belum siap, beriman atau tidak berman, tua atau muda, lelaki atau perempuan, pasti dan pasti akan menuju kampung akhirat lewat pintu gerbang sakaratul maut. Coba kita merenungi waktu yang telah digunakan kita, bila aktivitas kita lebih banyak mengejar kepentingan dunia, apalagi cara mendapatkan kepentingan dunia dengan menghalalkan segala cara,  maka pertanda bawa waktu yang di konsumsi atau waktu yang dimanfaatkan tidak barokah.

Berkaitan dengan waktu maka waktu ada tiga bagian waktu. Waktu lampau, adalah waktu yang tidak bisa di ulang kembali hanya bisa di kenang dan dijadikan pelajaran. Waktu yang akan datang adalah waktu yang penuh ketidak pastian. Apakah kita bisa menjamin bahwa besok pagi kita masih hidup ?. Banyak orang yang hari ini segar bugar, besok nya sudah meninggal, akibat penyakit jantung,struk atau akibat kecelakaan lalulintas. Dan waktu sekarang yang sedang dinikmati, mulai detik ini kita mencoba agar waktu yang digunakan dan seterusnya menjadi waktu yang penuh barokah.

Bagaimamana mengkonsumsi waktu. Mengkonsumsi waktupun ada tiga cara. Waktu digunakan untuk beribadah.(dalam arti luas). Waktu digunakan untuk maksiat atau berbuat dosa. Waktu tidak digunakan untuk ibadah dan tidak untuk maksiat.

Setiap manusia dalam mengkonsumsi waktumya,untuk aktivitasnya, maka akan dilakukan pencatatan,sebagaimana firman Allah dalam Surat Yasin Ayat 12 :

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. 36:12)

Dari ayat diatas, bahwa setelah manusia dimatikan kemudian akan di hidupkan kembali, tentunya alamnya bukan alam dunia, tetapi alam barzah, alam kebangkitan, yaumul hizab, dalam ayat selanjutnya Bahwa Allah lewat kedua malaikat mencatatat apa-apa yang telah manusia kerjakan selama hidup di dunia, disini dijelaskan bahwa semua amal manusia baik itu amal soleh dan amal salah/dosa manusia dicatat, dihitung dan ditimbang, dan ayat selanjutnya “DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN”.(WA ‘ASYARAHUM)  Amal-amal manusia ternyata TIDAK CUMA DICATAT saja, tetapi akibat atau dampak dari amal-amal manusia tsb terhadap manusia yang lainnya, terhadap alam lingkungannya. Apakah catatan-catatan amal manusia tsb, membawa kemaslahatan umat atau justru sebaliknya merusak dan menghancurkan manusia dan lingkungan alam manusia. Selama dampak positif atau  negatip akibat  catatan –catatan amal manusia masih berjalan (masih ada) maka manusia yang melakukan amal tsb akan menerima atau menanggung dampak amalan tsb, walaupun manusia tsb sudah meninggal dunia, maka dampak catatan amal manusia tsb akan mengikutinya.

Bila manusia ketika masih hidup pernah memberikan sebagaian harta miliknya untuk kemaslahatan umat, untuk membuat masjid, sokolah atau madrasah, atau amal-amal yang lainnya yang sepeninggalnya manusia  lain masih merasakan manfaat dari amalnya, maka pahala amal soleh tsb masih tetap mengalir walau manusia tsb sudah meninggal dunia, atau manusia tsb mempunyai ilmu agama yang benar, kemudiaan diajarkan kepada manusia lain, manusia tsb mengamalkannya, maka yang mengamalkan ilmunya dapat pahala dan mengajarkan ilmunya juga dapat pahala, walaupun yang mengajarkan sudah meninggal dunia, selama yang diberi ilmu itu mengamalkan ilmunya, maka pahala tetap masih mengalir. Atau orang tua yang telah mendidik anaknya sehingga anak tsb menjadi anak soleh, maka do’a anak soleh untuk orang tuanya yang sudah meninggal dunia akan sampai. Hal tsb diatas berdasarkan hadist shahih yang sudah sering kita  dengar.

Begitupun catatan amal buruk yang terdapat pada manusia, amalam buruk tsb tidak hanya dicatatan saja tetapi juga dampaknya/ asyar bagi umat  manusia bagimana ?. Bila perbuatan atau amal buruk tersebut membuat kerusakan lingkungan baik secara moriil dan materiil, dan kerusakan tsb masih berlangsung bahkan lebih parah, maka manusia tsb akan mendapat kiriman amal buruk tsb walaupun sudah meninggal dunia. Misalnya saja bila seseorang mengajarkan ajaran yang sesat dan menyesatkan suatu masyarakat, ajaran tsb masih diamalkan para pengikutnya, maka yang mengajarkan ajaran sesat dan menyesatkan tsb akan mendapat kiriman amal buruk walaupun sudah meninggal dunia.

Semua manusia baik perempuan atau lelaki, apapaun jabatan status sosial dalam kehidupan masyarakat; apa itu direktur atau kondektur, wali kota atau wali murid, gubernur atau penjual benur, mentri atau mantri suntik, presiden atau penjual pepsoden. Apapun jabatan yang ada pada setiap manusia, sebenarnya itu adalah amanah Allah. Sesuatu amanah berarti sifatnya titipan, pasti akan di minta kembali kapanpun waktunya. Ketika yang punya amanah meminta dikembalikan, tidak cuma dikembalikan begitu saja, diminta pertanggungjawaban atas amanah yang telah diberikanya. Tentunya semangkin tinggi jabatan sosial seseorang, semangkin luas dalam menentukan kebijakan publiknya, dan semangkin luas pula asyar/ dampak/akibatnya bagi masyarakat.

Tulisan ini semoga menjadi bahan renungan khususnya seluruh anggota  Jam’iyyah Rotibayn Tegal. Semoga mulai detik ini, sekarang juga, kita berubah nebjadi masnusia yang lebih baik dalam mengkonsumsi waktu,amin.

وَالْعَصْرِ

Demi masa.

إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Tegal 15 Rabiul awal 1431 H

01 Maret 2010 M

HM Nur Prasojo

Al Fagir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: