MUTIARA BERTABURAN

ZALZALAH (GEMPA)

“Tidak akan terjadi kiamat, sehingga ilmu ke Islaman diangkat, banyak gempa, waktu terasa pendek, banyak timbul fitnah dan banyak pembunuhan, sehingga harta melimpah diantaramu dan hilang tak menentu “

(HR Bukhori dan Abu Hurairah)

Kita tahu bahwa bila terjadi yang sedikit mesti ada yang banyak. Bila ada yang kecil, tentu ada yang besar. Terjadi satu kali, dapat berulang-ulang. Demikian seterusnya.

Gempa yang terjadi dimana-mana, dapat menjadi i’tibar pelajaran, bawa sewaktu waktu kelak akan terjadi gempa yang maha dasyat. Tidak ada yang mencegahnya. Tidak dapat diatasi oleh pasukan huru-hara, atapun team pengendali bencana alam sekalipun yang berstandar International. Itulah yang dinamakan kiamat.

Firman Allah dalan surat al-Hajj 1-2 ;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.

Pada ayat itu tergambar sebagian peristiwa pada hari kegoncangan (gempa) yang dasyat. Bila sekarang terjadi gempa, tanah longsor, banjir dan tsunami yang meluluh lantakan tatanan suatu kota dan mengakibatkan meninggalnya puluhan ribu manusia, kelak akan terjadi gempa yang sangat dasyat yang akan mengancurkan dan meluluh lantakkan seluruh tatanan tata surya. Gempa yang datangnya dengan serempak. Dari masyrik ke maghrib. Dari kutub utara ke kutub selatan.

Pertanda kiamat dengan gempa dapatlah dijadikan pelajaran. Bagaimana paniknya bila terjadi gempa. Rumah-rumah, gedung-gedung rubuh dalam sekejap mata. Jalan-jalan yang dibangun dengan kokoh dapat retak dan hancur. Manusia diliputi ketakutan, untuk sementara waktu lebih banyak tinggal di luar rumah, takut ada gempa susulan. Kehidupan perekonimian lumpuh seketika. Akibat bencana alam terjadi penyakit melanda masyarakat, gatal-gatal, diare dan kurang pangan. Untuk merenovasi kota akibat bencana alam membutuhkan biaya dan waktu yang sangat lama. Banyak sekali masyarakat hingga berbulan-bulan menempati tenda-tenda darurat bencana alam. Sendi-sendi kehidupan kota lumpuh.

Kita telah diberi pelajaran, peristiwa tzunami di Aceh, dan peristiwa tzunami di Yogyakarta dan sekitarnya. Berapa puluh ribu orang yang meninggal, nampak pemandangan di Aceh kala itu, mayat berserakan bertumpuk-tumpuk di jalan. Sarana dan prasarana kota hancur lebur dalam waktu beberapa menit saja. Berapa biaya  yang dibutuhkan untuk membangun kota menjadi hidup kembali ?. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali tatanan kota, sarana dan prasarana kota ?. Semuanya tidak sedikit dana untuk merehab kota juga membutuhkan waktu cukup lama. Kalau secara tinjauan ilmiah menurut ilmu geologi, bahwa gempa tsunami adalah patahnya lempengan-lempengan bumi yang selalu bergerak. Dengan patahnya lempengan bumi yang ada di laut, maka air laut akan masuk kedalam lubang-lubang lempengan bumi yang patah, sehingga air laut tersedot masuk kelubang tsb. Akibatnya saat itu pantai yang terkena gempa tsunami, air lautnya surut beberapa saat. Tetapi kemudiaan, air laut yang tadi masuk ke lubang lempengan bumi yang patah, mendadak naik dan membentuk gelombang yang dasyat dan menggulung lalu mengantam seluruh yang ada pinggir pantai dengan jarak puluhan kilo meter. Akibatnya kota yang ada dipinggir pantai tsb, hancur seluruhnya.

Sebagai orang yang beriman, cobalah kita merenung sedikit. Siapa yang mematahkan lempengan-lempengan bumi tsb ?. Kenapa patahnya lempengan bumi tsb berada di kota itu ?. Coba kita lihat dan simak kisah Kaum Saba’ yang mengingkari nikmat Allah, seperti yang terdapat dalam firman Allah dalam surat Saba’ Ayat 15 s/d 17 :

َقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Ayat 15

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Ayat 16

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلا الْكَفُورَ

Ayat 17

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

Pada surat Saba’ ayat- ayat tsb diatas menjelaskan, bahwa  kaum saba diberi oleh Allah negeri yang makmur yang melimpah ruah hasil pertanianya. Kaum saba lalai, bahwa atas kemakmuran negerinya sebenarnya ada tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka sepatutnya bersyukur  kepada Allah, bersyukur dalam arti menjalankan perintah-perintah Allah yang menjahui semua larangan Allah. Kaum saba malah tidak bersykur tetapi menjadi kufur. Terjadilah banjir akibat runtuhnya bendungan Ma’rib yang meluluh lantakan tanah yang subur tsb. Dan tidak hanya itu saja, tetapi tanah yang tadinya bisa ditanami buah-buahan dan gandum, akibat banjir tanahnya jadi tidak subur. Lahan pertanian nya sudah mati, dan hanya bisa ditumbuhi pohon “Atsel” sejenis pohon cemara dan pohon “Sidr” sejenis pohon bidara. Dua jenis pohon yang tidak bisa dimakan pahit rasanya. Tentunya untuk melangsungkan kehidupannya kaum saba harus berkelana. Azab kaum saba terjadi karena kaumnya sudah sangat kafir. Apakah kehidupan disekeliling kita sudah sangat kafir ?. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Ada kisah satu kaum yang di Azab,  bumi dimana untuk berpijak ditilep dan dibalik kebawah serta dihujani dengan batu yang terbuat dari tanah keras dan kering . Seperti kisah Nabi Luth, dalam Surat Al Hijr ayat 74-75

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Diceriterakan bahwa kaum nabi Luth sudah kufur, dimana dalam kehidupan masyarakatnya terjadi penyimpangan prilaku sexual atau homosex. Diperingati tidak digubris, maka kotanya ditilep kewah tanah, dan kaumnya dihujani dengan batu dari tanah yang keras. Ceritera ini terkenal dengan Sodom dan Gomorah.

Ada lagi  kisah  kaum ‘Aad yang sangat sombong merasa dirinya paling kuat dan paling hebat. Kaum ‘Aad lalai, lupa diri tidak menyadari bahwa yang menciptakan dirinya adalah Allah yang lebih besar kekuatannya dan mereka mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah. Akhirnya kaum Aad di Azab dan disiksa dengan datangnya angin yang sangat gemuruh bebera hari. Seperti yang terdapat pada Firman Allah Surat Fushilat Ayat 15-16 ;

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

Kisah Raja Fir’aun yang sangat berkuasa menjadi sombong bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi kesombongannya sudah pada pengakuan dirinya sebagai Tuhan, dan ia memerintahkan kepada kaumnya dengan cara paksa dan kejam untuk membuatkan tempat yang tinggi (singgasana) yang terdiri dari batu bata (hamam) dengan maksud untuk bisa melihat Tuhannya Nabi Musa dan bisa menandinginya. Akhirnya Allah memberikan azab yang dasyat kepada Fir’uan bersama bala tentaranya, akibat kesombongan dan kekejamannya, seperti yang yang terdapat pada firman Allah dalan Surat Al-Qoshos ayat 38-42:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلأ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

38

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لا يُرْجَعُونَ

Dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.

39

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang lalim.

40

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنْصَرُونَ

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

41
وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).

2

Dari surat-surat dan ayat-ayat tersebut di atas yang semuanya menjelaskan azab, bukan saja azab terkena pada  diri pribadi sebagai penguasa kaumnya, tetapi kaumnya juga ikut terkena azab, bukan hanya itu saja bumi dimana penguasa berkuasa ikut dilumat dan diluluh lantakan, entah itu lewat banjir, angina topan, hujan batu, ditilepnya suatu kota ke bawah tanah, dan di tengelamkan laut. Apa yang menyebabkan itu semua ?. Dari surat-surat dan ayat-ayat tsb dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Manusia telah diberi nikmat berupa lahan pertanian yang sangat subur yang bisa dengan mudah untuk bercocok tanam dengan hasil yang sangat melimpah. Tetapi masyarakatnya lalai, bahwa atas anugerah lahan pertanian yang subur dan bisa memakmurkan kehidupannya, sebenarnya ada tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka sepatutnya manusia tsb bersyukur dengan cara menjalani perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, akan tetapi malah manusia tsb berbuat kufur, mengingkari keberadaan Allah. Manusia merasa bahwa lahan pertanian yang subur dan kemakmuran yang terwujud, seakan-akan hasil jerih payahnya, bukan pemberian dari Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. (Kisah kaum saba’).
  • Terjadinya penyimpangan prilaku kehidupan manusia, terdapatnya kaum yang melakukan homosexual atau lesbian. (Kisah nabi Luth)
  • Manusia yang sangat sombong merasa dirinya paling kuat, dirinya lalai siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang memberinya kekuatan dan siapakah yang paling kuat, apakah dirinya ataukah yang menciptakan dirinya, Allah Azza wajalla ? ( Kisah kaum ‘Aad)
  • Manusia yang sangat sombong karena kekuasaannya yang sangat berlebihan, sehingga dirinya merasa menjadi tuhan. Ditangannya semua perkara ditentukan, bahkan sampai menyentuh ranah yang menjadi kuasa Tuhan, hidup mati seseorang ada di tangan penguasa yang dzolim dan sombong. (Kisah Raja Fir’aun).

Membaca Al Qur’an bukan saja mendapat pahala bagi yang membacanya dengan benar, tetapi juga merupakan pedoman kehidupan dengan mengambil i’tibar pelajaran dari kisah-kisah hidup dan kehidupan suatu kaum dimasa yang silam. Apakah perilaku kehidupan suatu masyarakat  yang menyimpang dari perintah Allah dan mengakibatkan kehancuran kaumnya dimasa yang silam kaum akan selalu ber ulang kembali di era sekarang ?. Coba kita simak surat Al Isra ayat 58 :

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz).

Dari ayat tersebut di atas nampak dengan jelas, bahwa azab keras suatu negeri ditimpakan karena prilaku penduduknya yang telah durhaka berbuat dosa. Hal ini dikuatkan dengan Surat Hud Ayat 117 :

َمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.

Surat Hud ayat 117 menjelaskan bahwa Allah tidak akan membinasakan suatu kaum atau negeri dengan dasyat bila penduduknya berprilaku baik, tidak adanya prilaku kaumnya atau masyarakatnya yang berpaling dari ayat-ayat Allah. Kandungan isi Surat Al Isra ayat 58,solusinya ada pada  Surat Hud ayat 117.

ila terjadi bala bencana kita mesti harus ingat bahwa segala sesuatunya dari Tuhan. Mungkin ini merupakan teguran Tuhan kepada kita karena kita lalai. Mungkin ini pertanda bagi kita, bahwa Tuhan marah melihat kelakuan kita.

Salah satu jalan yang paling baik dalam menghadapi teguran-teguran Allah itu, ialah dengan memperbanyak permohonan ampunan (istighfar) kepada Nya. Apabila terlanjur berbuat dosa, segera mintakan ampunan, segera bertaubat.

Mudah-mudahan dengan seringnya minta ampunan dari Nya, akan menjadi penghalang bagi turunnya azab Allah, sebagaimana janji Allah dalam surat Al Anfal ayat 33

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.

Semoga dengan menjauhkan diri dari tanda-tanda kiamat  seperti yang tercantum dalam keterangan hadis (HR Bukhori dan Abu Hurairah) di awal tulisan ini, kita akan terhindar dari segala macam mala petaka dan kutukan Allah. Mudah-mudahan , Amin Yaa Allah.

Tegal 16 Rabiul Awal 1431 H

02 Maret 2010 H.

Al Fagir HM Nur Prasojo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: