PERHIASAN DUNIA

“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Surat Al Kahfi (18:46)

Pengertian perhiasan adalah sesuatu (assesoris) yang menempel pada manusia yang sifatnya tidak kekal. Berarti bisa dibogkar pasang atau bisa dicopot dan diletakkan kembali. “Sesuatu” itu bisa berupa harta, pangkat, istri dan anak yang semuanya ini bisa dibingkar pasang, mungkin dalam perjalanan hidup manusia atau ketika manusia sampai ajalnya, semua assesories hidup manusia itu akan di tinggalkan. Mau atau tidak mau, siap atau belum siap, yang muda atau yang tua, kalau waktu ajal sudah tiba, maka tidak ada yang dapat memajukan atau mengundurkan ajal setiap manusia. Ajal atau kematian manusia lewat pintu gerbang sakaratul maut.

Ketika kita dilahirkan oleh Allah lewat seorang ibu, kita lahir dalam keadaan telanjang bulat, tidak pakai baju yang berkantong. Setelah beranjak dewasa kita pakai baju dan berkantong untuk menyimpan harta milik kita. Ketika mati kita juga tidak memakai baju yang berkantong, hanya di balut dengan kain mori yang harganyapun sangat murah, dan kain yang tidak pernah dijadikan bahan baju ketika masih hidup. Semua assesories dunia harus di tinggalkan. Hartanya menjadi warisan anak-anaknya yang kadang bisa membuat persilisihan keluarga yang ditinggalkan. Pangkat atau jabatan yang disandang ketika masih hidup kadang bisa menjadi fitnah. Hanya amal-amal soleh yang kekal yang bisa memberikan manfaat kebaikan  untuk manusia yang lainnya baik ketika masih hidup, atau ketika sudah meninggal. Amal-amal solehlah merupakan bekal untuk mengarungi kehidupan kita setelah kematian. Fase kehidupan manusia itu mengalami empat fase sebagai mana firman Allah :

“ Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” Surat Al Baqarah :28)

Coba kita perhatikan ayat di atas tentang fase manusia : 1.MATI – 2.HIDUP – 3.MATI – 4. HIDUP. Fase hidup manusia yang pertama adalah  mati yang artinya kita belum ada, fase ke dua adalah hidup, fase ini adalah keberadaan manusia selama hidup di dunia, kemudiaan pada fase ke tiga adalah mati, ditandai dengan peristiwa sakaratul maut, fase ke empat adalah hidup, artinya kita dibangkitkan kembali untuk menjalani persidangan akhirat untuk dimintakan pertanggungjawaban setiap manusia selama hidup didunia. Kalau kita pikirkan, setiap manusia dalam kehidupannya di dunia, ada yang baik ada yang jahat, misalnya mencuri, menganiaya manusia dan perbuatan yang merugikan manusia. Secara kehidupan dunia, memang ada hukum, tetapi kadang hukum buatan manusia yang penuh kelemahan dan yang mengadili adalah manusia yang ketika menjadi juru adil melalui proses yang tidak adil, sehingga menghasilkan perkara pengadilan yang tidak adil. Dan pengadilan yang seadil-adilnya adalah pengadilan akhirat  ketika ada di padang mahsyar, semua catatan rekaman video kehidupan yang penuh dengan perbuatan  manusia , perbuatan yang sekecil apapun baik yang nampak maupun tidak nampak manusia akan di stel kembali, apapun yang manusia lakukan selama hidup dunia akan terekam dengan jelas oleh malaikat munkar dan nakir. Saksi bukan manusia, tetapi tangan dan kaki, mulut kita di kunci. Inilah pengadilan yang seadil-adilnya.

Akan ditanya dua pertanyaan yang menyangkut harta . Dari mana harta itu diperoleh ?. Untuk apa harta digunakan ?. Harta diperoleh dengan cara haram dan digunakan untuk kemaslahatan umat, ini tidak dibenarkan. Apalagi harta didapat dengan cara haram digunakan untuk kemaksiatan. Audzubillah mindzalik. Hanya harta yang didapat dengan cara halal dan digunakan untuk kemaslahatan umat, yang akan menolong kita di akhirat.

Pangkat atau jabatanpun begitu. Bagaimana proses mendapatkan jabatan atau pangkat tsb. Apakah dengan cara-cara yang di ridhoi Allah atau tidak. Setelah didapatkan apakah pelaksanaanya justru mendzolimi diri sendiri. Sesungguhnya setiap manusia punya jabatan hidup. Seorang anak yang belum mandiri jabatannya adalah sebagai anak yang masih mendapat support hidup dari kedua orang tuanya. Pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, buruh, tani, nelayan, karyawan swasta dan negeri. Itu semua adalah jabatan manusia. Dimana setiap waktu jabatan manusia akan selalu berubah, dan pada akhirnya manusia akan menjandang jabatan, almarhum. Apapun jabatan yang ada sekarang, syukuri dan berdo’a agar jabatan yang disandang di dunia, akan menjadi wasilah mengantarkan kita ke surga, bukan sebaliknya jabatan kita menjadi wasilah mengantarkan kita masuk ke lubang neraka.

Semoga kita bisa melakukan koreksi diri kita, atau bermuhasabah atas amal-amal yang telah kita lakukan, sekiranya kita mendapatkan amalan yang akan menyeret kita ke lobang neraka, segeralah bertobat dan minta ampun, dan memohon kepada Allah, agar sisa langkah kehidupan di dunia menuju akhirat dihiasi dengan coretan-coretan amal soleh yang di ridhoi oleh Allah SWT. Sebaliknya bila kita dalam bermuhasabah, kita sedikit amal solehnya, maka mohon kepada Allah, agar amal soleh kita ditingkatkan lebih banyak lagi.. Koreksilah kesalahan diri kita sendiri sebelum mengoreksi kesalahan orang lain. Jangan menuding orang lain bersalah, sementara diri kita masih gelepotan daki dosa dan maksiat.

Tegal Jum’at 26 Maret 2010 M

Al Fagir Muhammad Nur Prasojo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: