Kisi Hati

SEMUANYA BERTASBIH

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Kemarin malam aku bersilaturahmi ke rumah teman lamaku, Anton Suharto, di Jalan Pala Raya Mejasem Tegal. Ia profesinya seorang montir dengan keakhlian audio serice, punya work shoop sendiri disamping kanan rumahnya.Istrinya yang asli purworejo, selain ibu rumah tangga juga mempunyai toko lampu pijar dan alat-alat listrik, tokonya cukup lumayan besar berada di samping kiri rumahnya. Udara malam itu cukup gerah, sehingga kami sepakat ngobrol dilanjutkan di luar, depan toko listrik, duduk santai dibawah pakai tikar, dengan minum teh poci gula batu dan kue-kue kering sisa lebaran. Diseberang jalan sana ada tanah tegalan kosong, disana-sini tertimbun sampah kering yang masih mengepulkan asap warna putih. Kata temanku, bahwa sampah tsb sudah dua hari masih menyala apinya tapi kecil, hanya mengeluarkan asap. Aku perhatikan sekitar bakaran sampah tsb, ternyata ada segerombol pohon pisang yang ikut terbakar, kelihatan dari sorot lampu jalanan, daunnya yang mongering dan gosong terbakar.

Tak sadar aku berkata “ Kasihan pohon pisang itu “.
“ Kasihan ?” Temanku balik bertanya keheranan, atas statementku.

Akhirnya aku jelaskan stetementku:
Pohon pisang adalah makhluk ciptaan Allah, semua apa yang ada dilangit dan dibumi bertasbih, sebagaimana firman Allah SWT:

Surat Al Isra Ayat 44

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”

Pohon pisang termasuk didalamnya, jadi pohon pisang tsb bertasbih. Kalau sekarang pohon pisang tsb terbakar, apakah bisa bertasbih ? Pohon pisang, tentunya tidak bisa bertasbih, tapi menangis. Temanku mendengarkan penjelasanku mulai serius, sambil tangannya menuangkan poci isinya teh panas dituangkan kedalam 2 gelas kecil yang berisi gumpalan gula batu.

Manusia di ciptakan Allah diatas dunia sebagai khalifah fil ard, yang mempunyai misi atau tugas BERIBADAH DAN HANYA MENYEMBAH KEPADA ALLAH SAJA.
sebagaimana firman Allah SWT:

Surat Adz Dzariyat ayat 56

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Agar manusia bisa menjalankan tugas tsb, dan untuk melangsungkan kehidupannya di bumi, maka Allah membekali dengan berupa flora , fauna dan kekayaan alam yang banyak mengandung manfaat untuk hidup manusia. Tidak hanya kekayaan alam saja, tapi Allah memberikan system kehidupan, agar manusia selamat di dunia dan di akhirat. System kehidupan tsb berupa aturan-aturan hidup yang sesuai petunjuk Allah, yang tertuang dalam Al Quran, Assunah dan Ijma para ulama. Jadi hidup di dunia tidak seenaknya hidup, main bakar, main bunuh, dan merusak makhluk hidup dan lingkungan Alam. Nabi saja mengajarkan bahwa kita dilarang membunuh makhluk hidup dengan cara dibakar,seperti membunuh kutu binatang yang kecil dan lemah. Islam memang agama kasih sayang. Jadi kalau kita lihat di TV, ada orang yang mengebom orang dengan cara bom bunuh diri, dan merusak hotel-hotel, aku jadi heran ini ajaran apa ya ?.

Teman saya sangat antusias mendengarkan omonganku, matanya sekali kali melotot ke wajahku, tangannya dengan terampil mengudek gelas kecil yang berisi teh panas dan gula batu. Wah tenggorokanku agak kering, kalau diguyur teh enak sekali nich..Tapi temanku belum menawarkan aku minum, mungkin tehnya masih sangat panas.

Benarkah pohon pisang punya misi hidup di dunia untuk membantu kelangsungan hidup didunia ?. Kita coba, pohon pisang yang belum berbuah kita tebang, maka akan tumbuh tunas lagi hingga berbuah dan buahnya di manfaatkan manusia. Setelah itu pohon pisang tsb ditebang, maka pohon pisang tsb akan mati. Apa artinya ? Pohon pisang tidak akan mati bila misinya belum terlaksana, dan akan mati bila misinya telah selesai. Coba kita ambil ibroh dari kehidupan pohon pisang dan bandingkan dengan diri kita ? Sudahkah kita bermanfaat untuk makhluk ciptaan Allah yang lain ?. Atau sebaliknya, kita merusaknya ?

Akhirnya temanku menawarkan meminum teh poci gula batu bikinan istrinya yang ikut mendengarkan omonganku juga. Aku senang, dalam hatiku berkata ” dari tadi kek nawarin minumnya, udah haus nih..”. Langsung saja aku minum teh poci gula batunya. Wuah..panas…manis…wangi… dan kental tehnya. Tiga kali teguk saja sudah habis air tehnya, istri temanku menuangkan teh nya lagi ke cangkirku. Perbincangan masalah pohon pisang terhenti, ketika ada orang mau beli lampu pijar. istri temanku bergegas melayani pembeli. Akhirnya aku pamit pulang. Dengan sepeda motor, aku menembus kegelapan malam di Jalan Pala Raya Tegal menuju rumah.

===================================================

KISAH PENABUH BEDUG MASJID AGUNG TEGAL

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Usai sholat asar di Masjid Agung Tegal, aku perhatikan sebuah bedug yang terletak di kiri  pojok ruang paling depan masjid. Aku perhatikan kulitnya dan badan bedug tsb. Kulit bagian belakang bedug ada sedikit robek, warnya sudah agak kusam, mungkin akibat dari seringnya ditabuh bila waktu sholat tiba dan usia bedug yang sudah tua. Badan bedug terbuat dari kayu bercat kuning muda dan  warnya sudah pudar. Dalam benakku bertanya-tanya, sudah berapa yah usia bedug ini. Apakah seusia umur masjid Agung ?.Aku jadi kaget, ketika dari arah kiri, ada yang menyalamiku. Ternyata Pak Thohirin , satpam yang merangkap kebersihan Masjid. Aku jelaskan padanya, aku lagi mengamati bedug masjid. Akhirnya terjadi dialog tentang bedug. Ketika bicara penabuh bedug, Pak Thohirin teringat penabuh bedug yang telah meninggal, Pak Soleh namanya.

Pak Soleh keturunan arab, berpostur tubuh tinggi besar, berkumis tipis rapi,wajahnya bulat telur, berpeci hitam, lebih sering memakai celana panjang, sehari-harinya lebih banyak tinggal di Masjid, kecuali bila malam hari tidur di rumahnya yang tidak jauh dari masjid. Bila waktu sholat tiba, maka Pak Soleh segera menabuh bedug, kemudiaan dilanjutkan Azan. Pak Thohirin, berceritera, kerika Pak Soleh, pada suatu sore sedang wudhu, tiba-tiba terjatuh dan kepalanya membentur kran air dan terjadi luka di kepala. Kerika itu darah dari kepala mengucur cukup banyak. Pak Thohirinlah yang menolongnya membawanya ke Rumah sakit Kardinah Tegal, dan barulah Pak Thohiin memberitahukan keluarganya.

Aku juga jadi teringat ceritera Pak Soleh. Ketika itu, usai sholat Dhuhur. Sambil duduk-duduk bersandar tiang masjid Pak Soleh berceritera. Bahwa dulu di Tegal ada sebuah pesantren yang terkenal, setingkat Pesantren Gontor dan Pesantren Tebu Ireng yaitu Pesantren Kyai Mukhlas, yang terletak dekat makam  panggung Tegal. Santrinya cukup banyak. Pak Kyai Mukhlas, selain seorang yang memberi pelajaran agama islam, juga senang mengendarai kereta kuda (dokar). Jaman dulu, dokar bila dibanding dengan jaman sekarang seperti mobil, sebagai alat transportasi dan simbul kemapanan. Seorang Kyai besar seperti Kyai Mukhlas, sangat memerlukan dokar untuk dakwah dan silaturahmi ke pelosok daerah lainya. Kata Pak Soleh, Kyai Mukhlas sangat memperhatikan santri-santrinya, bahkan setiap santri yang ngaji di pondoknya dianggap seperti keluarganya. Bila ada salah satu santri yang dari desa atau kota lain yang cukup jauh mau pulang, maka tidak boleh pulang dulu, bila padi Pak Kyai disawah belum dituai. Pak Kyai, tidak memperkenankan santrinya pulang ke rumahnya sebelum  membawa oleh-oleh padi hasil sawahnya untuk keluarga santrinya. Aku tertegun mendengarkan ceritera Pak Soleh. Kyai Mukhlas, akhlaknya sangat baik yah kata hatiku. Hubungan antara Kyai dan santri begitu sangat dekat sekali. Bagaimanakah hati orang tua si Santri, ketika anakya yang mondok mendapat oleh-oleh dari Kyainya berupa beberpa ikat padi yang siap di tumbuk dijadikan beras.Aku pikir, pasti orang tua santri akan meneteskan air mata, air mata bahagia dan haru. Bukan karena nilai gabah berasnya, tapi nilai empatinya yang sangat tinggi.

Ceritera kebesaran Pesantren Kyai Muhklas Tegal, aku dapat dari Kyai Amin yang ada di Way Punggur Lampung Selatan. Waktu itu perusahaan tempat aku bekerja menugaskan aku, untuk melakukan pemeriksaan proyek di Way Punggur. Sore menjelang maghrib aku masih bekerja di lokasi proyek. Ketika itu datanglah seorang lelaki tua, memakai sarung, berkopyah hitam berkendaraan sepeda jengki, memasuki areal proyek dan menuju kantor base camp. Lelaki tua berperawak kecil menemui Proyek Manajer. Aku jadi ingin tahu, ada masalah apa dengan lelaki tua tsb. Rupanya Kyai Amin, sedang melaporkan ke pada Proyek Manajer, bahwa masyarakat sekitar sudah sangat mengharapkan agar saluran  irigasi segera diteruskan pembuatannya, karena tanaman padi dan jagung mereka bila tidak diairi maka akan kering. Masyarakat Way Punggur dan sekitarnya adalah masyarakat petani, yang sistim pengairannya selama ini dengan sistim tadah hujan. Bila tidak ada hujan maka tidak ada air. Dengan dibuatnya saluran irigasi, maka masyarakat sangat membutuhkan sekali. Rupanya masyarakat sekitar sangat hormat dengan para Kyai, segala masalah yang terjadi dalam masyarakat, maka masyarakat juga mengajak para ulama untuk memecahkan masalah yang ada. Ketika aku kenalan dengan Kyai Amin, aku jelaskan bahwa aku datang dari Tegal, Jawa Tengah. Kyai Amin juga menjelaskan bahwa waktu tahun 1958, beliau juga pernah mondok di Kyai Mukhlas di Tegal, dan kemudiaan melanjutkan dakwahnya ke Lampung dan  babad alas mendirikan kampung yang sekarang ia tinggal. Aku sangat senang kenalan dengan Kyai Amin yang berperawakan kecil tapi kalau bicara penuh bijak dan tenang yang kalau kemana-mana naik sepeda jengki. Sosok Kyai Amin, Kyai yang menjadi panutan warganya.

Hari telah sore, akhiranya aku pamitan sama Pak Thohirin penabuh bedug Masjid Agung Tegal, aku ajak makan kupat glabed randu gunting yang mangkal di depan masjid agung Tegal, dia menolak katanya masih kenyang. Akhirnaya aku keluar masjid ” Dan bukalah oleh Mu untukku segala pintu rahmat Mu”.

==================================================

CERITERA SANTRI KRITIS

Oleh : Al Fagir HMNur Prasojo

Seperti biasanya setiap minggu malam senin di Masjid Hajrn Kauman Tegal, setelah shalat maghrib berjamaah hingga isya diadakan pengajian. Malam ini pengajian membicarakan masalah dampak memakan makanan haram dalam prilaku kehidupan manusia.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 172 :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”

Bagaimana dampaknya bila manusia melanggar perintah Allah ini ?. Dalam sebuah ceritera ada ,seorang santri yang kritis cara berpikirnya dan lagi mondok di pesantren cukup terkenal di Jawa Timur.. Bagaimana kalau seandainya ayat tsb dilanggar ? Apa akibatnya ya ?. Santri ini, ayahnya seorang pengusaha yang suskses di kampungnya. Ayah dan keluarga sang santri sangat terbuka terhadap keluarganya dalam masalah keuangan, ayahnya mempunyai dua kotak brankas. Yang satu warna putih, untuk menyimpan uang hasil usaha yang HALAL  Sedang yang satunya brankas warna hitam untuk menyimpan hasil usaha yang HARAM dan SUBHAT. Wah.. sang santi rupanya hatinya tergelitik, dan pulang ke kampunya. Sang santri sampai dirumah memohon kepada Abahnya/Bapaknya untuk meminta uang beberapa ratus ribu, tetapi sebagian di ambil dari brankas PUTIH dan sebagian dari brankas hitam. Abah sang santri keheranan, tapi karena sang santri sudah dianggap dipercaya oleh Abahnya, maka permintaannya diberikan.

Sang santri tahu persis keadaan masyarakat kampungnya. Mana yang orang yang alim/baik dan mana orang yang tidak alim/jahat. Jam 12 malam sang santri berkeliling kampungnya, dengan membawa dua gepok uang. Satu dari brankas Putih dan satu dari barnkas hitam. Sang santri segaja menyamar, agar tidak dikenali orang kampung. Pertama kali didapati sebuah rumah yang penghuninya seorang pencuri, pemabok,dan penjudi. Malam itu penghuni rumahnya belum pada tidur. Sang Santri menocba mengetahui, apa yang terjadi dalam rumah tsb dengan cara mengendus-endus. Rupanya anak sang pemabok lagi sakit parah, dan Sang pemabok, sedang meratapi anaknya yang sakit. Sang Santri akhirnya menaruh se gepok uang yang di ambil dari brankas warna putih/ uang halal, dan ditaruh di depan pintu sang pemabok. Kemudian Sang santri ngeloyor pergi untuk mencari orang lain lagi.

Ditangan sang santri masih ada satu gepok uang yang diambil dari brankas warna hitam/uang haram. Akhirnya sang santri melihat ada sebuah rumah yang masih menyala lampunya, dang sang santri mengendus rumah tsb, sedang apakah penghuninya, rupanya penghuni tsb sedang membaca Al Quran. Tak pikir panjang lagi, uang segepok dari brankas hitam di taruh di depan pintunya. Sang santri ngeloyor pulang kerumah dan langsung tidur.

Sang santri setelah melakukan percobaan tsb, ditunggu sekitar 1 minggu. Kemudiaan apa yang terjadi dengan orang-orang tsb. Pertama yang didatangi adalah seorang pemabok yang anaknya dulu sakit. Sang santri, langsung bersilaturahmi ke rumah sang pemabok. “Assalamu’alikum “ kata sang Santri. Dari arah rumah sang pemabok ada jawaban seorang perempuan “ Walaikum salam Warohmatullhi Wabarokatuh” di jawab istri sang pemabok. Setelah ngomong-ngomong , rupanya anaknya sekarang sudah sembuh dan Bapanya yang sang pemabok lagi sholat Asar di mushola seberang jalan, sekarang sudah insyaf/sadar. dan sekarang berjualan gorengan di pangkal jalan gang, dari hasil uang yang didapat didepan rumah beberapa hari yang lalu..Sang santri pamitan, dan rupanya percobaan sudah ada yang benar dan berkesimpulan sendiri : “Bahawa uang dari hasil yang halal bila di belanjakan/dikomsusi oleh orang yang jahat, maka akan membawa dampak perubahan prilaku orang tsb jadi baik “

Sang santri menuju orang yang ditengah malam sedang mengaji. Ternyata orang tsb adalah seorang ayah yang alim dan sedang memondokan anaknya untuk belajar nngaji. Pada malam itu sang ayah, lagi pusing memikirkan biaya pondoklan anaknya, dan ternyata mendpatkan uang tsb didepan rumah dan langsung diberikan kepada anaknya yang membutuhkan biaya. Ceitrera sang Ayah yang alim tsb, bahwa anaknya yang berada di pondok, jadi nakal, suka berkelahi dan terlibat narkoba.
Sang santri berkesimpulan :” Bahwa uang dari hasil yang haram, bila digunakan untuk kebaikan maka hasilnya bukan baik tapi justru sebaliknya”

Sang santri terus berjalan, sambil merenungi kebenaran Ayat-Ayat Allah., sambil hatinya berdzikir Subhanallah….Subhanallah….

Subhanallah… ..disetiap langkahnya.

===================================================

HIKMAH NGOBROL DENGAN TUKANG PARKIR

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Kota Tegal sudah lama tidak turun hujan. Bila sudah jam sepuluh pagi hingga asar  terik matahari memanggang badan  setiap orang yang berada di luar rumah. Didalam rumah saja  suhu udara cukup panas dan membuat penghuni rumah sangat gerah kepanasan. Tentunya tidak demiukian bila di ruangan  ada AC nya, uadara segar dan sejuk akan mebgalir dan membuat tubuh terasa nyaman.

Kemarin siang sekitar pukul 11, aku keluar kantor untuk membayar telepon dan listrik di Kantor telpon Jl Gajah Mada Tegal memakai sepeda motor. Ampun panasnya bukan main berada di luar ruangan, apalagi perubahan suhu dari udara AC ke uadara bebas, panas menyegat, terasa sekali. Aku parkirkan motor  didepan kantor telpon. Seorang lekaki setengah baya berkaos dan memakai rompi coklat kusam mengampiri aku, langsung menutup jok motor dengan selembar kardus merah iklan hemaviton dan kemudian memberi nomor parkir kepadaku. Aku heran, diterik panas seperti ini, tukang parkir pakai kaos dirangkap dengan rompi apa tidak panas ?. Aku jadi penasaran. Aku tanya pada tukang parkir tsb:

“ Pak tidak kepanasan siang-siang begini pakai rangkapan baju rompi ? “Kataku.

“ Mas ini tidak seberapa panasnya bila di banding dengan panas api neraka “ ?.Jawab  tukang parkir

“ Emangnya Bapak sudah pernah merasakan panasnya api neraka ?. Kataku.

” Itu kata ustad saya Mas….” Jawab tukang parkir.

” Oh…oh ” Desahku.

Aku masuk ke kantor telpon, ampun banyak orang pada ngantri bayar telpon. Setelah aku nulis nomor telpon yang akan aku dibayar disecarik kertas, aku tusukkan pada kawat di meja loket bercampur dengan tumpukan kertas nomor telpon orang lain. Untuk menunggu panggilan membayar, aku mencari tempat duduk yang dekat dengan AC. Lumayan nyaman udara AC mengenai tubuhku. Sambil duduk, aku masih berpikir, jawaban tukang parkir tadi. Aku membayangkan kelak bila di padang masyar dan Aku ingat sebuah hadist :

Dari Al Miqdad, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : ” Pada hari kiamat, matahari akan mendekat kepada manusia hingga jaraknya satu mil.”. Sulaim bin Amir berkata : ” Demi Allah,Aku tidak mengerti yang dimasud satu mil tersebut. Apakah ukuran dunia ataukah ukuran mil yang digunakan sebagai celak mata ?” Beliau berkata : ”Sehingga manusia berada sesuai dengan ukuran amalnya dalam keringatnya. Ada diantaranya keringatnya berada diantara kedua mata kakinya, ada yang sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya sampai menenggelamkan nya. Dan Rasulullah memberikan isyarat denga tangannya ke mulut beliau (HR  Muslim ).

Hadist diatas menjelaskan jarak matahari dengan manusia sangat dekat sekali, hanya satu mil. Sekarang saja di dunia jarak matahari dengan manusia ber triluyun-triyun mil saja sudah bisa membakar kulit manusia, apalagi kelak di padang masyar yang hanya 1 mil. Dalam benakku timbul kengerian yang sangat dasyat. Apalagi di padang masyar tidak ada naungan atau tempat berteduh, kecuali naungan Allah. Siapa yang mendapat naungan Allah ?. Rasulullah bersabada : ” Tujuh orang yang Allah naungi dalam naunganNya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan yaitu :

  1. Imam yang Adil
  2. pemuda yang berkembang dalam beribadah kepada Allah
  3. Seorang yang hatinya bergantung pada masjid
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
  5. Seseorang yang diajak seorang wanita pemilik kedudukan dan kecantikan  (untuk berzina), lalu ia menyatkan ” Aku takut kepada Allah”.
  6. Seorang yang bersodaqoh lalu menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
  7. Seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata .

( HR Bukhari & Muslim)

Aku berpikir, aku termsuk salah satu ke tujuh golongan tsb ataukah  tidak ?. Aku coba mengkoreksi diri sendiri…

Tiba-tiba dari loket pembayaran telpon, memanggil-manggil nama saja. Aku tersentak kaget, aku segera bangun dari tempat duduk, dan langsung menuju loket pembayaran, aku bayar telpon sesuai jumlah yang disebutkan kasir. Aku keluar, menuju parkir motor, aku bayar dengan uang satu lembar uang ribuan, ketika tukang parkir akan mengembalikan kembalianya dengan uang logam lima ratus perak, aku katakan. ” Kembaliannya ambil saja, sambil tersenyum”. ”Terimakasih..terimaksasih ” kata tukang parkir, sambil membuka karton merah  yang menempel diatas motor jokku. ” Terimakasih” Aku katakan sambil menepuk-nepuk bahu tukang parkir, tanda rasa kagum dan bangga atas Obrolan singkatnya , yang ternyata menambah kekuatan imanku. Aku tancap gas, motor melaju di jalan pantura yang panas, tapi kini aku merasa tidak panas, karena ter obsesi panasnya di padang masyar yang ternyata lebih panas…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: