Kajian Hadist

BIOGRAFI RINGKAS IMAM BUKHARI

Oleh : Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff

Jumhur ulama Ahlu as-Sunnah telah bersepakat bahwa kitab kumpulan hadist Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik setelah Al-Quran. Dapatkah kitab tersebut dipertanggungnawabkan secara ilmiah ? Pertanyaan inilah yang sering muncul ditengah-tengah masyarakat dewasa ini.


Karena kedudukan sebagi sumber Islam kedua setelah Al-Quran, tak pelak lagi, studi hadis menjadi sangat penting bagi umat Islam. Hadist secara umum , dan hadist yang termaktub di dalam kitab Shahih Bukhari secara khusus, tak habis-habisnya dipelajari dan dikaji dari jaman ke jaman.

Riwayat Hidup

Imam Bukhari mempunyai nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah al-Ju’fi al-Bukhari. Sedang nama yang masyhur, Bukhari, dinisbatkan kepada nama desa tempat kelahirannya.

Beliau dilahirkan pada Jum’at 13 Syawal 194 H/810 M, di desa Bukhara, Uzbekistan, yang termasuk bekas wilayah Uni Soviet. Bukhari tidak pernah mengenyam pendidikan dari ayahnya, karena dalam usia 5 tahun ia telah menjadi yatim. Ia menerima warisan sebuah perpustakaan dari ayahnya. Dan warisan inilah yang turut andil dalam menjadikan Bukari sorang ahli hadis.

Dalam usia 10 tahun, Muhammad mulai menganalisa dan menghapal hadits

dengan antusias. Beberapa tahun  kemudian, ia merasa kurang puas dengan hanya berguru di desa dan mempelajari buku-buku peninggalan ayahnya. Untuk menambah ilmu, iapun mulai mendatangi tokoh-tokokoh ahli hadist disekitar desanya.

Dalam usia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail mulai dekenal khususnya dikalangan ulama hadis debagai pemuda yang cerdas. Juga diriwayatkan,pada usia itu ia telah hafal Al-Quran dan beberapa buku hadis yang ditulis oleh Abdullah bin al-Mubarak dan Waki’ yang terkenal sebagai ahli hadis pada masanya.

Mengarang dan Mengembara

Pada tahun 210 H, menurut riwayat lain 216 H, Muhammad diajak ibunya pergi haji bersama saudaranya yang bernama Ahmad. Kepergianya kali ini, dapat dikatakan awal dari perjalanan pengembaraan mencari hadis. Dan seperti telah diduga sebelumnya, ketika Akmad dan ibunya kembali, Muhammad memilih menetap lebih lama di Mekah.

Selama tinggal di Mekah, Muhammad berguru pada ulama ahli hadist seperti: al- Wahid, al- Azraqi, Ismail bin Salim dan lain-lain. Beliau juga pergi ke MAdinah untuk mengunjungi para anak cucu sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Selama setahun kemudiaan disana, beliau menulis dua buku yang berjudul “Qadhayaal-Shahabah wa al-Tabiin” dan “al-Tarikh al-Kabir”. Kedua buku ini ditulis saat ia berusia 18 tahun, dan kedua buku tsb merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif.

Muhammad tercatat sebagai penghimpun hadis yang paling luas wilayah perjalanannya, syam, Baghdad, washit, Bashrah, Kufah, Mesir, Maru, Asqalan, Rei, naisaburn Himsma, Khurasan, dan masih banyak lagi daaerah yang sempat dikunjungi. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, menghasbiskan waktu selama 16 tahun. Lebih dari 1000 hadis sempat diterimanya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadis yang dihimpunnya.

Selama masa pelawatan, Muhammad sempat menulis berbagai buku, khususnya mengenai permasalahan hadis. Diantaranya buah tangan adalah : al-adab al-Mufrad, Raf’u al-Yadain fii al- sahalah , Birru al-Walidain,al-Tarikh al-Shaghir, al Tarikh al- Ausat, al-Dhu’afa, Auhuma al- Muhadditsin, al-Asribah, al-Hibah,Ilall fii al-Hadist dan lain-lain. Dan dari sekian banayak karya, al-Jami’ al-Shahih-lah yang melambungkan nama Imam Bukhari..

Kandungan Shahih Bukhari

Pada masa itu, sebenarnya terdapat beberapa ulama hadis yang telah mendahului Bukhari dalam menghimpun hadis. Namun Bukharilah yang pertama menghimpun hadis yang shahih. Guru Bukhari, Ishaq bin Raahawaih, mempunyai gagasan untuk mengumnpulkan dan memilih hadis. Menurut Asqallani, gagasan inilah yang menggerakkan hati Bukhari untuk menyusun karya besarnya, Shahih Bukhari.

Setelah melewari pengembaraan 16 tahun, Bukhari berhasil meghimpun 600.000 hadis versi lain mengatakan 400.000 hadis yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Dari jumlah diatas, Bukhari memilih 8.000 hadis ( 1.,5 %). Memang dari sekitar 500.000 hadis yang Bukhari kumpulkan, banyak didapati pengulangan, perbedaaan hadis hanya pada rawi dan lain-lain. Namun yang pasti, apa yang terdapat dalam Kitab Sakhih Baukari  merupakan kumpulan hadis shahih hasil dari penyaringan ratusan ribu hadis yang ada  (tak lebih dari 7,5 %)

Berapa jumlah hadis yang terdapat di kitab Shahih Bukhari ?. Menurut perhitungan Ibn Shaleh dan Imam Nawawi 7.275 hadis dengan pengulangan disana-sini, jika tanpa pengulangan sekitar 4.000. Menurut perhitungan al-Hafidh 7.397 hadis, dan bila tanpa pengulangan 2.602 hadis.

Serbagai karya terbesar dan terpenting di bidang hadis, maka banyak ulama yang mensyarah – menerangkan maksud, memperjelas dan mengulas. Hingga kini, lebih dari 80 kitab syarah telah disususun oleh para ulama. Menurut versi lain 60 kitab syarah.

Dari sekian banyak kitab syarah tersebut yang paling dikenal di dunia Islam adalah “Fathul al-Bari”, susunan Syihabuddin al-Asqallani (wafat 853 H), “Irsyaadu al-Saari”, susunan Ahmad bin Muhammad al-Mishri al-Asqallani (wafat 923 H), “Umdatu al-Qaari, disusun  Badrudin al-‘Aini (wafat 855 H), “At-Tawsyih”, susunan Jalaludin al- Suyuthi, “al-Tanqih”, susunan Badruddin al-Zarkasih dan lain-lain. Dari semua syarah tersebut, “Fathul al-Baari”-lah yang paling bagus dalam segalanya sehingga dijuluki “raja syarah Bukhari”

Diriwayatkan bahwa Bukhari pernah berkata, “ Tidak kutulis sebuah hadis pun dalam kitab Shahih, kecuali aku berwudhu dan shalat dua rakaat terlebih dahulu”. Dan masih terdapat beberapa riwayat lain , yang kesemuanya menunjukkan kebesaran kitab  Shahih  Bukhari.

Kritik terhadap Shahih Bukhari

Seabad setelah kitab Shahih Bukhari tersususun, muncul beberapa ulama yang mengkritiknya, seperti : Daruqutni (wafat 385 H), Ghassani (wafat 365 H) dan lain-lain. Sebagai rekasi dari kritikan-kritikan ini muncul ulama lain yang mengkaji ulang dan meneliti kembali, termasuk penelitian mengenai metode pencarian hadis.

Pada abad VII H, 3 abad setelah bermunculnya kritik terhadap Shahih Bukari adalah “Afsahi al-kutuub na’da al-Qur’an” (kitab yang shahih setelah al-Quran). Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi (wafat 676 H), dan 2 abad kemudiaan oleh Ibnu Hajar (wafat 852 H) dan akhirnya menjadi kesepakatan ulama Ahlu al-Sunnah.

Pada perkembangan berikutnya muncul pula bantahan-bantahan terhadap pendapat yang mengkritik hadis bukhari. Namun bersamaan dengan itu muncul pula kritikan-kritikan baru, baik dari kalangan orientalis maupun umat islam sendiri. Seperti : Muhammad al-Ghazali, Ahmad Amin dan lain-lain.

Imam Nawawi dalam “ Ma Tamassu Ilayhi Hajatul Qori Ila Sohikil Bukhari mengatakan kritikan-kritikan al Duruquthi dan lain-lain itu hanyalah berdasarkan kritikan-kritikan yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadis yang justru dinilai lemah sekali ditinjau dari segi ilmu hadis karena berlawanan dengan criteria-kriteria yang ditetapkan oleh jumhur ulama. Karenanya, demikian lanjut Nawawi, anda jangan sekali-kali terperdaya oleh kritikan-kritikan itu.

Sasaran Kritik

Srcara garis besar dan ringkas, kritikan hadis ditujukan pada dua aspek, yaitu sanad dan matan hadis. Melalui kritik sanad dapat diketahui apakah perawi tersebut jujur, takwa, kuat hapalannya dan lain-lain, termasuk bersambung tidaknya periwayatan hingga kepada kepada nabi Muhammad s.a.w. Sedang kritik matan lebih menitik beratkan pada teks/redaksi hadis. Apakah mengandung illah atau cacad dan syad atau janggal.

Kedua aspek kritik hadis diatas, telah diterapkan oleh para ulama terdahulu. Tetapi kaum orientalis dan para kritikus hadis akhir-akhir ini, menuduh bahwa ulama hanya mengkritik sanad tanpa mempertimbangkan matan/redaksi hadis. Berdasarkan pertimbangan tersebut, mereka lalu menemukan hadis-hadis dalam Shahih Bukhari yang mereka anggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (”iptek”).

Kendati sejak dulu pakar iptek dalam keputusasaannya mengakui bahwa pengetahuan yang mereka dapati hanyalah kebenaran yang sementara, selalu berubah, selalu berkembang bahkan hasil akhir acapkali bertentangan dengan hasil penelitian awal. Diantara penganut faham kritik hadis baru adalah , Ignaz Goldzier, AJ.Wensink, Robson, Maurice Bucaille, Ahmad Amin, Syaikh Muhammad Ghazali dan lain-lain.

Yang perlu kita ingat juga, kebanyakan kritikan terhadap hadis Bukhari menyangkut masalah furu’ (cabang), bukan masalah aqidah (pokok). Misalnya : hadis mengenai lalat, Nabi Musa menempeleng malaikat, Nabi mendekati istrinya diwaktu haid yang disalah pahami, dan lain-lain hadis yang kesemuanya tidak mungkin menggoyahkan kedudukan Shahih Bukhari.

Ulum al-Hadis

Untuk menggambatkan keilmiahan metode pemilihan dan/atau pentaskhihan hadis, berikut adalah keterangan singkat mengenai ulum al-hadis. Secara garis besar, ilmu hadis dibagi menjadi Riwayah dan Dirayah. Pembahasannya meliputi sanad, matan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keduanya. Dari kedua ilmu tersebut muncul ilmu baru yang merupakan cabang dan anak cabang antara lain :

Rijalul al-hadis: membahas mengenai sejarah kehidupan para perawi dari golongan sahabat,tabi’in, dan tabi’it tabi’in.

  • Abab al-wurud : sebab penurunan hadis
  • Talfigi al-hadis: membahas cara pengumpulan hadis yang secara tersurat saling bertentangan.
  • Musthalahul al hadis: membahas hakikat periwayatan, syarat, macam, keadaan rawi,syarat menjadi rawi, macam-macam yang dieiwayatkan, istilah yang dipakai dalam ilmu hadis dan lain-lain yang beratalian dengannya.

Selain diatas : Fanni al-Mubhamat, Tarikh Rijall al-Hadis, Tawarikhu al-mutun, Ma’rifat waz al-Maudhuu’at dan masih cukup banyak lagi cabang dan anak cabang dari berbagai ilmu diatas. Bila mengingat semua ini, termasuk mengenai metode pencarian dan pencatatan, tak salah bila daikatakan bahwa Bukhari telah menerapkan metode ilmiah. Dan kitab himpunan hadis beliau, Shahih Bukari, dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Demikianlah sedikit dari Biografi Imam Bukari dan karyanya Shahih Bukahri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: