Berita Religi

==================================================

JAM’IYYAH ROTIB ROTIBAYN TEGAL

MEMPERINGATI  MAULID NABI MUHAMMAD DI PEKALONGAN

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Jam’iyyah Rotib Rotibayn Tegal, menyelenggarakan acara peringatan maulid Nabi  Muhammad SAW  selasa malam rabu  tanggal 16 Rabiul Awal 1431 H atau tanggal 2 Maret 2010 M, di kediaman Habib Thohir bin Abdullah al Kaf.  Jl KH Agus Salim VIII No 3 Pekalongan. Jalan Gang yang menuju kediaman Habib Thohir sebagai Pembina Jam’iyyah Rotibayn Tegal, sudah nampak berderet mobil dan motor yang diparkir sejak ba’da maghrib. Acara dimulai ba’da maghrib dengan dibacakannya sejarah kehidupan Nabi Agung Muhammad SAW lewat kitab diba’i, dan do’a. Para tamu undangan nampak memenuhi kediaman Habib Thohir yang cukup luas hingga  memenuhi halaman depan rumahnya. Para tamu yang berjumlah ribuan  orang kebanyakan terdiri dari  Habaib, Kyai, Ustad dan seluruh anggota jam’iyyah rotibayn dan dari jam’iyyah lainnya yang berasal dari Pekalongan, Tegal, Semarang dan wilayah Jawa Timur.

Diadakanya  peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW  bentuk ekpresi rasa gembira atas kelahiran manusia yang termulia dan sangat peduli akan keselamatan kita yaitu  Habibuna Muhammad, kata Habib Thohir. Hal ini ditegaskan oleh KH Sultan Barmawi, Kyai muda yang kharismatik dari Tegal dalam ceramahnya yang mengatakan bahwa, merayakan peringatan maulud Nabi Muhammad bentuk pengungkapan rasa gembira atas rahmat Allah yang diturunkan untk manusia yang tiada taranya, sebagaimana firman Allah  SWT:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

(QS.Yunus :58)

Dalam ayat tersebut diatas menerangkan bahwa kita hendaklah gembira karena  Allah SWT yang telah menurunkan Rahmat. Kita telah tahu bahwa Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam adalah rahmat dan anugerah Allah SWT kepada manusia, sebagaimana firman Allah SWT.

.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam ( QS Al Anbiya’ : 107)

Para negunjung peringatan maulud Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam digiring untuk memahami sosok manusia yang termulia, Habibuna Muhammad. Pelaksanaan peringatan maulid Nabi berakhir hingga pukul 20.00 WIB, sebelum pulang seluruh yang hadir, menyantap nasi kabuli , nasi khas kesukaan para habaib yang rasanya lezat.

=================================================

KOTA TEGAL MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Puncak acara gebyar maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini di kota Tegal ditandai dengan dilangsungkannya pawai rolasan, pada malam 12 Rabiul Awal 1413 H atau bertepatan dengan hari jum’at kliwon tanggal 25 Pebruari 2010. Gebyar Maulud Nabi Muhammad SAW, adalah sebuah agenda acara yang didalamnya menyuguhkan; lomba pidato, lomba rebana, pawai rolasan dan pengajian akbar. Acara ini dilaksanakan oleh Yayasan Syiarul Islam dan didukung oleh Pemkot Kota Tegal. Penonton pawai sudah mulai memadati dan tumpah ruwah di sepanjang Jl KH Muchlas,Jl Kartini, Jl Diponegoro,Jl A.Yani, Jl Setia Budi, sejak ba’da Isya, mereka tidak datang dari kota Tegal saja, tetapi datang dari Kabupaten Tegal. Mereka berbondong-bondong tua muda keluar dari rumah mereka, bak semut keluar dari sarangnya, menuju jalan-jalan protokol yang dilalui rute pawai. Pawai rolasan adalah sebuah acara tradisi masyarakat kota Tegal, dalam menyambut kelahiran manusia yang  termulia dan yang sangat peduli akan keselamatan kita HABIBUNA MUHAMMAD SAW.

Pawai rolasan tahun ini  diikuti oleh semua elemen masyarakat, dari elemen pendidikan tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dan kelompok organisasi masa keagamaan . Seperti biasanya, pawai di awali dengan mobil pengawal polisi, dilanjutkan dengan sekolompok barisan berbaju seragam putih-putih bertopi taruna  dari Sekolah Umum Perikanan Menengah Negeri Tegal, membawa bendera merah putih dan bendera tiap kelompok jam’iyyah. Dibelakangnya lanjutkan dengan menampilkan bentuk kitab Al Quran yang cukup besar, kemudiaan diterusukan group marching band dengan berbaju hitam dan berkopiah hitam berhiaskan sorban putih, selanjutnya menampilkan onta-onta an yang cukup besar, ada juga yang menampilkan dua buah kereta kecana yang ditarik kuda yang dikendarai oleh orang-orang yang berbaju bak wali songo, dan ada juga sekelompok anak-anak menunggang kuda dengan pakain baju koko pakai sorban dikepalanya dengan dihiasi lampu mainan yang berkerlap-kerlip,  yang lainnya semuanya marching band dari sekolah- sekolah yang ada  kota Tegal dan sebagian dari kabupaten Tegal. Sedangkan dari kelompok majelis taklim menampilkan seni rebana atau mengusung sosok bilal diatas becak yang digambarkan sedang  disiksa dengan rantai di lehernya, dan ada yang mengusung beberapa obor yang membentuk  lafad Allah. Pawai dengan jalan kaki diakhiri barisan calung lengkap dengan penarinya, pawai ditutup dengan mobil ambulace. Selanjutnya pawai beberapa mobil hias, yang berisi grup qosidah dengan lagu-lagunya bersenandung sholawat. Pawai rolasan berakhir sekitar pukul 22.30 WIB,berjalan dengan lancar dan penuh khidmad.

Pawai rolasan sebuah pawai tradisional keagamaan untuk memperingati setiap tahun sekali pada  tanggal dan bulan  kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir tanggal 12 bulan Rabiul awal. Rolasan yang berarti dua belas, pencentus pawai rolasan adalah almarhum KH Muchlas, Kyai kharismatik pendiri Pondok Pesantren Kyai Muchlas, yang berada di pusat kota Tegal, tepatnya didekat pemakaman umum panggung kota Tegal. Untuk mengenang jasa beliau jalan yang menuju ketempat pesantrennya, yang berada di pinggir Kali Gung, di beri nama Jalan KH Muchlas. Menurut ceritera orang tua dulu, bahwa pawai rolasan sudah ada sejak tahun 60 an, ketika itu pawai rolasan diselenggarakan setelah ba’da isya, pengikut pawai berasal dari seluruh santri pondok dan seluruh elemen kelompok masyarakat. Pada masa itu penerangan jalan belum seterang sekarang, setiap peserta pawai membawa obor bambu. Coba bayangkan kalau misalnya pengikut pawai lima ribu orang, berarti lima ribu obor bambu bergerak ditengah kegelapan malam, menerangi jalan-jalan yang dilalui rute pawai, dan dari mulut mereka tidak henti-hentinya berkumandang sholawat di iringi dengan tetabuhan rebana. Sementara ribuan obor bambu meneranginya dengan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi, membawa bacaan sholawat mereka, hingga menembus langit lapis tujuh. Alunan rebana yang meliuk-liuk nadanya, di iringi untaian kata sholawat yang keluar dari hati yang bersih dari mulut-mulut yang setiap hari selalu berdzikir kepada Allah, menyeruak ke relung hati setiap insan yang mendengarnya, menghentak-hentak setiap hati manusia, hati yang mati menjadi hidup, hati yang lalai jadi tergugah, hati yang hidup jadi lebih hidup. Hati seluruh umat islam jadi hidup, bila hati telah hidup pertanda hati telah bersinar, bersinarnya hati manusia maka akan menjadi penyuluh untuk mengarungi hidup dan kehidupan  yang bisa memilah dan memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana yang halal, mana yang haram, mana yang haq dan mana yang bathil.

Ada penampilan yang hilang dalam acara pawai rolasan pada era sekarang, yaitu kesenian “ Kuntulan”. Kuntulan adalah sebuah kesenian rakyat , yang diperagakan oleh beberapa orang berbaris, dengan adegan seni beladiri, ada yang menggunakan tangan kosong, permainan tongkat atau pedang.Gerakan kuntulan kelihatan patah-patah, karena setiap gerakan seluruh pengikut pawai kuntulan di komado oleh satu orang,setiap perintah satu gerakan memakai sempritan, sehingga gerakannya teratur. Bila saja islam mengambil falsafah dari seni kuntulan, yang mencerminkan semangat berdakwah di masyarakat, dimana setiap gerakan dakwahnya dalam satu komando, maka islam  tidak gampang terpecah belah.

Pelaksanaan acara gebyar maulud di kota Tegal untuk tahun ini, memang sudah terasa sekali gregetnya sejak tanggal 1 Rabiul Awal hingga malam 12 Rabiul awal, dimana hampir seluruh mushola dan masjid, sejak ba’da maghrib hingga isya, lewat pengeras suara dibacakan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dengan dibacakannya Diba’i , Barzanji, dan Simtudduror. Selama 12 hari suasana keagamaan masyarakat di kota Tegal memang meningkat dan  khusuk. Perayaan maulud tidak hanya diselenggarakan oleh mushola dan masjid saja akan tetapi para Kyai, Habaib dan Ustadz juga merayakannya di jam’iyyah kelompoknya. Hampir dikatakan jadwal da’i untuk ceramah di bulan maulud sudah penuh, dan itupun yang mengundang ceramah harus pesan jauh-jauh  sebelum bulan maulud. Gema dan gaung gebyar maulud Nabi Agung Muhammad SAW, telah merasuki jiwa-jiwa orang muslim, sehingga gairah menyambutnya begitu sangat antusias.

Inti gebyar maulud pada hakekatnya adalah mensuritauladani kehidupan Nabi Muhammad SAW, seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS  33 : 21)

Gebyar maulud Nabi Muhammad SAW dengan puncak acaranya pawai rolasan bagi masyarakat Tegal adalah merupakan hiburan gratis, sebuah moment yang sangat tepat untuk syiar islam, waktu yang sangat tepat untuk menunjukkan kekuatan islam dengan mengikuti banyaknya peserta pawai. Semoga ditahun-tahun kedepan pelaksanaan gebyar maulud Nabi Muhammad SAW, akan lebih semarak dan tema-tema yang di usung tidak membuat jenuh para penontonnya.

Tegal 12 Rabiul Awal 1431 H/ 26 Pebruari 2010 M

====================================================

ZIARAH KE MAKAM WALI

Oleh Al Fagir HM Nur Prasojo

Ziarah ke makam para wali adalah sebuah tradisi yang sering dilkukan oleh kelompok pengajian, terutama menjelang dilaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan, acara yang dilakukan disebut dengan “Nyadran”. Hampir setiap tahun Rombongan pengajian dari kota Semarang dibawah asuhan Habib Ahmad Assegaff, melakukan nyadran ke makam para wali dengan rute ke Pekalongan ke makan sapura, ke Tegal ke makam Hadad dan terkhir ke  Cirebon ke komplek makam Sunan Gunung Jati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: